Bahkan, adakalanya pula tepuk tangan itu sengaja diawali (dikomandoi) terlebih dahulu oleh beberapa gelintir orang yang biasanya adalah panitia atau orang-orang terdekat dari pejabat yang berpidato, sehingga kemudian diikuti oleh seluruh undangan yang hadir. “Plok, plok, plok, plok”, dengan suara yang membahana seolah apa yang dilontarkan petinggi itu betul-betul prestisius dan luar biasa, sehingga benar-benar perlu untuk ditepuktangani.
Dalam konteks kehidupan berorganisasi, kita juga kerap berhubungan dengan urusan seremonial lain yang mengharuskan, misalnya, berjabat tangan dengan para atasan kita. Dalam konteks ini, kita bisa melihat cara-cara unik berjabat tangan para staf dengan atasannya itu. Ada yang hanya bersalaman biasa, tetapi ada juga yang bersalaman sebegitu dahsyat sambil berkali-kali mencium tangan si pejabat, seolah tangan itu adalah jimat.
Hubungan Patron-Klien
Tepuk tangan dan berjabat tangan, tentu merupakan hal lumrah kita lakukan, sebagai bagian dari interaksi sekaligus simbol keakraban dalam hubungan sosial kemasyarakatan. Namun, dalam konteks hubungan tertentu, adakalanya tepuk tangan dan jabat tangan itu tidak lepas dari sebuah setting, sehingga mengharuskan, bahkan memaksa kita melakukannya, meskipun sebetulnya hati kita sendiri tidak menghendakinya.
Dalam konteks acara-acara seremonial sebagaimana disebutkan di atas, suasana tepuk tangan yang basa-basi itulah yang kerap kita temukan. Kita ‘dipaksa’ bertepuk tangan mulai dari saat pemanggilan pejabat oleh pembawa acara ke atas mimbar, saat pejabat mengungkapkan sesuatu yang (seolah) prestisius, hingga turunnya kembali dari atas mimbar. Cara bertepuk tangan pun berbeda-beda. Ada yang bertepuk tangan sekeras-kerasnya, biasa-biasa saja, hingga yang hanya menggugurkan kewajiban dengan bertepuk tangan meski sama sekali tidak berefek suara sedikit pun. Pokoknya, yang penting tepuk tangan, yang penting asal bapak/ibu senang alias ABS atawa AIS.
Pun dengan jabat tangan. Dalam situasi tertentu kita biasa dihadapkan untuk mau tidak mau harus berjabat tangan dengan atasan atau orang yang memiliki strata sosial lebih tinggi dibanding kita. Karena dipaksa keadaan, cara berjabat tangannya bisa lain dari biasanya; dari berjabat tangan sambil menundukkan kepala, hingga mencium tangannya, seolah dia adalah Begawan Guru yang harus dimuliakan, yang ucapannya adalah doa, dan tangannya adalah berkah bagi bagi murid-murid yang menciumnya.
Diakui ataupun tidak, dua sikap ‘berbasa-basi’ yang sering kita lakukan itu sejujurnya tak lebih dari upaya membuat senang sang pejabat, yang karena jabatannya memiliki kuasa atas kita, meskipun isi pidato yang disampaikannya biasa-biasa saja, bahkan sama sekali tak berkualitas, atau dia sama sekali tidak punya kapasitas yang mumpuni untuk menduduki jabatan yang disandangnya itu, sehingga sebetulnya tak patut kita bertepuk tangan sebegitu heboh dan berjabat tangan sebegitu dahsyat. Dalam perspektif sosiologis, hubungan semacam ini bisa kita katakan sebagai hubungan patron klien. Sang pejabat sebagai patron, dan kita (anak buahnya) sebagai klien. Sebagaimana hubungan patron-klien, patron begitu berkuasa atas ‘hidup-mati’ klien, sedangkan klien tak bisa melakukan apapun selain melakukan sikap penghambaan terhadap patron, agar posisinya di lingkaran kekuasaan sang patron tetap aman.
Basa-basi Demi Nasi
Karena ada ketergantungan hidup begitu rupa klien atas patron, segala cara penghambaan harus dilakukan agar patron selalu senang, dan klien menjadi tenang karena dapur tetap ngebul. Termasuk dengan jalan bertepuk tangan dan jabat tangan basa-basi tadi. Penulis menyebut perilaku demikian sebagai perilaku rente; tepuk tangan rente dan jabat tangan rente (tepuk tangan dan jabat tangan yang memiliki maksud, yakni maksud mengamankan diri). Sebab, apa jadinya bila kita tidak ikut bertepuk tangan di saat orang-orang kebanyakan bertepuk tangan begitu rupa, dan apa jadinya juga bila kita menghindar dari berjabat tangan atau hanya berjabat tangan biasa-biasa saja (tanpa menundukkan kepala atau sambil mencium tangan). Selain akan dianggap aneh, sikap demikian akan dianggap sebagai tindakan konfrontatif yang menunjukkan loyalitas rendah terhadap atasan atau lembaga, sehingga – dalam bahasa kekuasaan - patut dipertimbangkan, bahkan patut dibina(sakan), dari lingkaran kekuasaan sang patron.
Maka, tidaklah heran bila dalam berbagai kasus sering kita membaca atau mendapati berita tentang adanya pejabat atau karyawan yang di-nonjobkan, bahkan dikeluarkan, hanya karena mereka tak loyal terhadap atasan yang disebabkan persoalan sepele dan tidak substantif sebagai korban keserakahan dari kekuasaan – meski bukan karena tak bertepuk tangan atau berjabat tangan. Padahal, mereka sebetulnya adalah orang-orang yang memiliki kesadaran tinggi tentang hubungan kesejajaran dan kesederajatan selaku manusia, hubungan yang tanpa penghambaan atas manusia lain. Jika pun bekerja, bekerja bukan dalam konteks penghambaan atas manusia, melainkan atas dasar kecakapan dan kemampuan, yang seharusnya dinilai berdasar prestasi kerja, bukan karena penghambaan.
Mentalitas Terjajah
Perilaku kepura-puraan sesungguhnya telah berurat dan berakar begitu rupa dalam kehidupan kita, sebagai bentuk penghambaan dan peneguhan status quo, yang tanpa kita sadari sejatinya telah melunturkan identitas kemanusiaan kita menjadi manusia dengan mentalitas terjajah, yang memakan manusia atas manusia yang lain. Kondisi ini amatlah membahayakan karena kita akan kian terdegradasi pada level kemanusiaan yang terendah.
Perilaku atau bekerja yang dilandasi asal bapak/ibu senang adalah bentuk kepura-puraan yang penuh dengan manipulasi dan tidak berpijak pada realita. Sebagai contoh, ketika dalam sebuah forum kepala daerah mencanangkan bahwa para siswa harus lulus Ujian Nasional tanpa kecuali, maka kepala Dinas Pendidikan dan para Kepala Sekolah akan ‘dipaksa’ bertepuk tangan begitu meriah, lalu setelahnya berjabat tangan sambil menundukkan kepala atau mencium tangan sang kepala daerah itu begitu rupa. Konsekuensinya tidaklah berhenti di situ.
Apa yang dikatakan kepala daerah adalah ‘fatwa’ sekaligus ‘titah’ yang tentu saja harus dilaksanakan. Karena itu, tepuk tangan dan jabat tangan tersebut akan berkonsekuensi pada upaya agar para siswa lulus UN tanpa kecuali, meskipun sejujurnya ‘fatwa’ dan ‘titah’ itu tidaklah masuk akal. Maka, segala cara pun dihalalkan untuk membuat Bapak atau Ibu senang, tak peduli harus bertentangan dengan logika, atau berseberangan dengan nurani. Sebab, bila tak berhasil diwujudkan, konsekuensinya adalah nonjob, turun jabatan, atau mutasi ke tempat yang tak sepatutnya mereka tempati.
Demikianlah, pada akhirnya seluruh siswa lulus UN tanpa kecuali dan kepala daerah senang dibuatnya. Padahal realitanya kita tahu bahwa kelulusan itu tak lebih dari kerja keras dan kerja meras para pelaku pendidikan yang ma_nipulatif, kerja dengan mentalitas keterjajahan.
Tentu, masih ada begitu banyak kasus tentang mentalitas keterjajahan seperti itu, yang membuat kita pada akhirnya hanya menjadi penghamba-penghamba kekuasaan (manusia-manusia rente) demi dapur tetap ngebul, tak peduli tatanan dan nilai-nilai kehidupan harus hancur karenanya.
Jika sudah demikian, manusia seperti apa sesungguhnya kita ini?
Abdul Malik
Mantan wartawan, kini Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Serang Raya.
0 komentar:
Posting Komentar