Kini muncul kesadaran baru di kalangan elite Golkar untuk mengubah sikap dan pandangan politiknya dengan mengedepankan paradigma “Pembangunan Dari Desa”. Ketua Umum DPP Golkar, H. Aburizal Bakrie meyakinkan seluruh pengurus Golkar di berbagai tempat dan tingkatan untuk mengedepankan paradigma membangun Indonesia dari desa melalui program pemberdayaan rakyat dan pengelolaan aspirasi.
Saya kira Golkar harus merasa “berutang budi” pada masyarakat desa yang selama berpuluh tahun telah turut membesarkannya hingga menjadikan Partai Beringin ini tumbuh besar dan sempat menjadi peraih suara terbanyak dalam beberapa Pemilu. Namun ketika hubungan politik itu tidak dipelihara dengan baik, dan dampak pemerintah Orba telah mengecewakan, maka perlahan-lahan Golkar kian kehilangan komunitas pendukung fanatisnya dan hampir terpuruk dalam Pemilu terakhir.
Tidak sepantasnya Golkar terpuruk, jika saja memiliki kepedulian dan tindakan nyata terhadap masyarakat desa. Kondisi desa yang saat ini penuh cerita ekploitasi dan marginalisasi harus menjadi perhatian serius Partai Golkar. Ia kini mengubah format politik dengan mengedepankan konsep pembangunan desa untuk melindungi dan membantu masyarakat melalui pemberdayaan.
Kesadaran baru Golkar memperbaiki pendekatan ideologi kulturalnya melalui paradigma pembangunan dari desa itu tidak lain adalah untuk menumbuhkan semangat baru pembangunan yang memberdayakan. Pendekatan ini merupakan terjemahan dari amanat Munas VIII tahun 2009 untuk semakin mempertegas dirinya sebagai partai yang berorientasi pada rakyat. Tampaknya Golkar ingin merujuk kembali hubungan baik Golkar dengan desa.
Di hadapan ribuan kepala desa yang tergabung dalam wadah Asosiasi Pemerintahan Desa Seluruh Indonesia (APDESI) belum lama ini, Ketua Umum DPP Golkar, Aburizal Bakrie mengatakan Partai Golkar yang berorientasi karya kekaryaan memiliki komitmen nyata terhadap pembangunan bangsa. Rakyat desa tidak boleh ditinggalkan, karena konsep membangun Indonesia dari desa harus menjadikan rakyat desa sebagai pelaku pembangunan. Hal itu, menurut Ical – panggilan Aburizal Bakrie – merupakan konsekuensi logis dari tuntutan otonomi daerah dimana partisipasi masyarakat merupakan keniscayaan demokrasi. Melalui partisipasi itu masyarakat akan bersama-sama dengan pemerintah melaksanakan pembangunan dan merawatnya sebagai wujud karya bersama. Dalam hal ini Partai Golkar berusaha memperkuat basis rakyat dan memberdayakan untuk meningkatkan berbagai kemampuan, memikirkan, merencanakan dan melaksanakan pembangunan bagi peningkatan kesejahteraan rakyat di pedesaan.
Dalam perspektif Ical, membangun Indonesia dari desa memang penting menjadi format dan karakter yang melekat bagi siapa saja yang memimpin bangsa saat ini dan di masa mendatang dengan menciptakan sentra pertumbuhan ekonomi di berbagai daerah. Konsep itu ingin menciptakan sentra-sentra kemajuan pendidikan, kesehatan, social budaya, kemajuan infrastruktur dan bidang lain di seluruh daerah, sehingga daerah tidak lagi tercatat sebagai geo-strategi yang terpinggirkan, baik bidang sosial, budaya, ekonomi maupun infrastruktur.
Pemikiran yang mendasari konsep pembangunan dari desa ala Aburizal Bakrie menekankan pentingnya pembangunan wilayah pedesaan. Menurut Ical, “Kita tidak boleh membiarkan desa-desa dan daerah-daerah terpinggirkan dan mundur. Kita harus berfikir obyektif dan berjuang bersama-sama untuk menggerakkan pembangunan Indonesia dari desa”.
Politik Etis
Di zaman Orde Baru berbagai program pembangunan desa digulirkan, termasuk pengentasan kemiskinan. Namun semua itu tidak lebih dari sekedar politik etis pemerintah terhadap rakyat yang selama itu hampir dominan mendukung Golkar. Pendekatan yang top down itu bukan hanya tidak lengkap, tetapi sering kali gagal memahami hal ikhwal masyarakat desa dengan segala problematikanya. Dalam konteks sosiologis suatu optik ekonomi politik pada dasarnya merupakan kaca pandang yang bisa digunakan untuk melihat problem masyarakat desa, khususnya adalah bagaimana berbagai kepentingan eksternal bergerak di desa.
Berpuluh tahun dominasi pemerintah melaksanakan pembangunan yang bersumber dari dana rakyat APBN/APBD. Namun selama itu pula ribuan desa di Indonesia masih sulit berkembang dan kebanyakan warganya belum sejahtera. Esensi pembangunan untuk membuat masyarakat sejahtera, mandiri dan maju masih klise.
Bekerja untuk Rakyat
Berdasarkan fakta itu Golkar dan semua partai-partai hendaknya tidak lagi menjadikan rakyat di pedesaan sebagai obyek politik dan ajang perebutan pengaruh dalam perolehan suara dalam Pemilu mendatang. Partai-partai harus mulai sejak awal mengubah citra diri dan paradigma politiknya yang harus lebih mengedepankan makna dan fungsi kedaulatan rakyat yang memungkinkan dapat mendorong gairah partisipasi masyarakat dalam bidang politik.
Selama ini Partai Golkar dengan keunggulan konsep paradigm politiknya yang cukup popular itu melaksanakan pembangunan dari desa. Konsep itu menjelaskan kekuatan politik sebagai bentuk kedaulatan kolektif bangsa untuk menjadikan pembangunan sebagai upaya mensejahterakan rakyat melalui pemberdayaan social dan ekonomi; memperkuat proses demokratisasi dan mempersempit pemisah antara desa dan kota. Partai Golkar ingin menjadikan masyarakat desa sebagai pelaku usaha ekonomi. Karena itu pendidikan dan kesehatan serta infrastruktur di wilayah pedesaan harus diperbaiki.
Saya kira komitmen seperti itu muncul dari niat yang cerdas dan mencerdaskan. Sebab jika para politisi hanya berfikir pragmatism dan akan menjadikan masyarakat desa sebagai “bodoh” dengan membeli suara mereka dengan uang yang nilainya tak seberapa harus dibuang jauh-jauh ke masa lalu. Untuk masa depan peran partai politik harus memulai dengan pendidikan politik, mengembangkan kekuatan intelektual rakyat, belajar memahami nilai-nilai dasar perjuangan untuk perubahan melalui program nyata. Cara ini akan memiliki arti bagi proses sejarah, bagi sebuah masa depan yang akan melahirkan pemimpinn yang baik dan berkualitas untuk membawa Indonesia lebih maju. Dalam hal ini pendidikan politik harus menjadi sumber inspirasi bagi pembangunan desa yang mencakup: tataruang, perekonomian desa, aspek social budaya, ekonomi dan infrastruktur serta lingkungan hidup. Hal ini penting untuk penumbuhan motivasi dan partisipasi masyarakat desa dalam perubahan. Mereka akan mampu melakukan perubahan manakala memiliki kemampuan memenuhi berbagai kebutuhan kehidupan, baik fisik maupun sosial-psikologis.
Masyarakat dengan tingkat pendapatan yang mencukupi kebutuhan, pangan, kesehatan, gizi baik, pendidikan, perumahan dan lingkungan hidup akan juga berperan optimal dalam kelembagaan politik. Karena itu untuk masyarakat desa kegiatan politik harus berupa program nyata yang memberdayakan dan mengembangkan berbagai kemampuan skill sesuai basis sumber daya yang dimilikinya. Di sinilah pentingnya bahwa partai politik harus juga memiliki tenaga empowering dalam rangka melaksanakan pengembangan masyarakat (community development) yang berorientasi pada peningkatan pendapatan.
Partai politik bukan hanya lembaga politik yang melahirkan pemimpin atau wakil rakyat untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk masyarakat luas. Trend partai politik yang akan tumbuh kuat, yaitu partai-partai yang secara konsisten dapat bekerja untuk rakyat, membawa inspirasi perubahan bagi kemajuan bersama. Tanpa visi seperti itu, partai-partai akan banyak yang ditepis oleh pemilihnya. (*)
Herman Fauzi
Pemerhati masalah sosial-politik tinggal di Serang
0 komentar:
Posting Komentar